Endangered Animal of the Day

pets product

Monday, June 8, 2009

Fat tailed gecko

Tau hewan ini?
cecak!
hampir betul....
hewan ini memang sebangsa dengan cecak ataupun tokek. hewan ini namanya gecko.Rata Penuhsekilas bentuknya hampir mirip. gecko ini berasal dari afrika.

Nama: Fat Tailed gecko

Nama latin: Hemitheconyx caudicinctus

Seperti Leopard gecko (Eublepharis macularius), Fat Tailed Gecko adalah jenis gecko yang mempunyai kelopak mata, dari Famili gekkonidae dan subfamili Eublepharinae. Memiliki bentuk tubuh dan ukuran yang mirip dengan LG, tapi mempunyai cara beradaptasi yang berbeda dengan LG. Secara umum Fat Tailed Gecko adalah jenis yang sangat jinak, sedikit pemalu dan bersikap berbeda terhadap manusia yang dibanding dengan LG. Biasanya Fat Tailed Gecko yang baru saja datang akan kelihatan strees karena belum terbiasa dengan tempat baru nya. Tapi setelah beberapa lama dia akan mau kalau ditaruh di tangan.

Negara Asal:
Africa Barat , penyebaran meliputi Senegal sampai Cameroon sebelah Utara

Habitat Tempat Tinggal:
Padang Rumput, Bebatuan di bukit, Hutan terbuka, tepian-tepian sungai.

Size: Panjang 8-10 inches.

Kebiasaan:
Fat tailed geckos adalah binatang malam. Mereka biasanya agak jinak dan sedikit pemalu.
Larangan: Jangan menempatkan lebih dari 1 Jantan dalam satu kandang.

Penampilan:
Fat tailed geckos dibagi dalam dua Patern-
Pertama: Dengan strip putih dipunggungnya,
Kedua: Tanpa Strip di punggung. Warnanya biasanya terdiri dari beberapa warna, yang paling sering adalah warna gelap dan terang.

Bentuk Badan:
Dengan Ekor yang gemuk paling mudah dikenali (fungsinya untuk menyimpan makanan).

Kandang:
Fat Tailed Geckos memerlukan Aquarium ukuran minimum 10 Galon, untuk satu ekor.
Aksesories: kotak persembunyian, tanaman hidup, batu, Batang kayu.

Alas:
Orchid bark, cypress mulch, coconut fiber bedding, or peat moss bisa digunakan untuk mempertahan kelembaban.

Temperatur:
Di siang hari suhu bekisar 29-32 C, Menjelang Malam hari harus diturunkan menjadi 24-27 C. Pemanas sangat diperlukan didalam aquarium,tetapi bisa memakai lampu dop, (biasanya Nocturnal dop ), Tidak perlu memakai Lampu UV (ultra Violet ).

Kelembaban yang diperlukan sangat tinggi lebih dari 50%, dijaga dengan menyemprotkan sekeliling Aquariums dengan air, dan juga dengan menyediakan tempat air didalam Aquarium, atau juga bisa menempatkan spon yang sudah dibasahi di taruh di dalam kotak.

Pemberian Makan:
Fat tailed geckos dapat diberi makan jangkrik dan mealworms. Fat tailed geckos dewasa bisa diberi makan superworm atau maxworm.untuk dewasa pemberian makan cukup 2 atau 3 kali sehari, untuk masih bayi bisa 1 atau 2 kali sehari. Sebelum memberi makan sangat dianjurkan untuk memberikan tambahan vitamin yang berisi kalsium dengan cara diolesikan ke jangkrik atau mealworm.

Musim kawin:
December , Telur akan menetas dari 15 s/d 40 hari setelah perkawinan. Jumlah nya biasanya 5 clucthes.

Cara Penetasan Telur:
Suhu yang ideal untuk penetasan 26.7 -34.4 C, Temperature Sex Determined (TSD ) 26.7C = Betina, 30 C = ¼ dari total telur adalah Jantan, 32.2C = JantaN

Friday, June 5, 2009

Merak Hijau (Pavo muticus) / Status : Rentan

Pernah melihat pertunjukan reog ponorogo? salah satu kesenian tradisional bangsa indonesia yang pernah di klaim oleh malaysia sebagai kesenian mereka, namun kemudian diralat oleh mereka "dasar tidak kreatif!"
kembali ke reog, Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
Penggunaan bulu-bulu merak ini lambat laun menyebabkan mulai berkurangnya jumlah satwa ini. Saat ini merak hijau merupakan spesies yang rentan untuk punah.

Merak Hijau atau dalam nama ilmiahnya Pavo muticus adalah salah satu burung dari tiga spesies merak. Seperti burung-burung lainnya yang ditemukan di suku Phasianidae Merak Hijau mempunyai bulu yang indah. Bulu-bulunya berwarna hijau keemasan. Burung jantan dewasa berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 300cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor.

Populasi Merak Hijau tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di Republik Rakyat Cina, Indocina dan Jawa, Indonesia. Sebelumnya Merak Hijau ditemukan juga di India, Bangladesh dan Malaysia, namun sekarang telah punah di sana. Walaupun berukuran sangat besar, Merak Hijau adalah burung yang pandai terbang.

Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata. Burung betina menetaskan tiga sampai enam telur.

Pakan burung Merak Hijau terdiri dari aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing dan kadal kecil.

Namun karena banyaknya habitat hutan yang hilang dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta daerah dimana burung ini ditemukan sangat terpencar, Merak Hijau dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) /status : kritis




kalian semua kenal dengan gambar ini?
betul....

ini adalah harimau sumatra, salah satu dari tiga jenis harimau di Indonesia yang masih tersisa. Dua harimau yang lain adalah harimau jawa dan harimau bali, tetapi sekarangn keduanya telah punah akibat adanya perburuan liar dan berkurangnya habitat mereka.
sekarang harimau sumatra juga menghadapi masalah yang hampir sama dengan kedua saudaranya yang telah punah. Saat ini menurut kantor berita antara, yang masih hidup dihabitat aslinya hanya sekitar 250 ekor. Sungguh tragis nasib hewan yang menjadi kebanggaan kita ini.
Penyebab utama menurunnya jumlah satu-satunya sub spesies harimau yang masih hidup dari tiga sub spesies yang pernah dimiliki Indonesia itu diakibatkan perburuan yang dilakukan secara sistematis oleh sindikat perdagangan satwa. Dewasa ini harga kulit harimau dan potongan bagian tubuh harimau seperti kulit, taring, tulang, kuku dan sebagainya bernilai cukup tinggi, sehingga para pelaku menggerakkan masyarakat setempat untuk berburu hewan buas itu.
"Seekor kulit harimau berkisar antara tiga hingga lima juta rupiah per lembar, sedangkan di pasar internasional harganya mencapai 3.300 dolar AS (Rp33 juta). Si masyarakat hanya mendapat bagian kecil dan tak jarang mereka diberikan uang muka untuk berburu," ujarnya.
Selain itu, pembukaan lahan hutan yang dilakukan penduduk setempat juga menyebabkan timbulnya konflik antara manusia dan harimau sehingga binatang selalu kalah dan menjadi korban kendati hewan itu dilindungi undang-undang.

Rata Penuh"Walau telah ada UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, namun harimau tetap saja menjadi korban termasuk ketika penduduk membuka areal hutan untuk kebutuhan hidup masyarakat setelah sebelumnya terjadi konflik," ujarnya.

Sementara itu dalam lima bulan terakhir Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut telah menyita dua ekor Harimau Sumatera yang masih hidup dari delapan ekor satwa yang dilindungi di Kota Binjai dalam sebuah penggerebekan yang dilakukan Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC).

Kemudian kulit seekor Harimau Sumatera yang berasal dari Aceh Tenggara dari pihak Kepolisian Resort Tanah Karo setelah polisi menggagalkan rencana pejualan kulit Harimau Sumatera di salah satu penginapan kawasan Tiga Binanga, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo.

"Kedua kasus ini hingga kini masih dalam proses pemberkasan dan segera dilimpahkan ke pengadilan," ujar Pengendali Khusus Hutan BKSDA Sumut, Fitri Noor.

Berikut ini ada sedikit informasi tentang harimau sumatra, yang dihimpun dari beberapa sumber :
Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) hanya ditemukan di Pulau Sumatra di Indonesia

Ciri-ciri

Harimau Sumatra adalah subspesies harimau terkecil. Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap diantara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau Sumatra jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut dengan berat 300 pound. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci dan berat 200 pound. Belang harimau sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

Habitat

Harimau Sumatra hanya ditemukan di pulau Sumatra. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia

Diet

Makanan harimau sumatra tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsanya. Mereka punya indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau sumatra merupakan hewan soliter, dan mereka berburu di malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Mereka memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya celeng dan rusa, dan terkadang unggas atau ikan. Orangutan juga dapat jadi mangsa, mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, dan karena itu jarang ditangkap harimau.

Menurut penduduk setempat harimau sumatra juga gemar makan durian

Harimau Sumatera juga mampu berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa. Luas kawasan perburuan harimau Sumatera tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau Sumatera dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia).

Reproduksi

Harimau sumatra dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau sumatra dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.

Thursday, June 4, 2009

Javan Rhino (Rhinoceros sondaicus) / Badak Jawa


Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah salah satu spesies terlangka di dunia dengan perkiraan jumlah populasi tak lebih dari 50 individu di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dan sekitar lima individu di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam (2000). Badak Jawa juga adalah spesies badak yang PALING LANGKA diantara lima spesies badak yang ada di dunia dan masuk dalam Daftar Merah badan konservasi dunia IUCN, yaitu dalam kategori sangat terancam atau critically endangered.

Bisa kawan-kawan bayangkan, jika badak jawa punah berarti kita telah kehilangan salah satu hewan yang telah jadi trade mark kita dan berarti juga hilangnya salah satu dari lima spesies badak yang ada di dunia.

Sejak tahun 1962, WWF telah memulai penelitian terhadap populasi Badak Jawa di Ujung Kulon dengan dukungan ahli Dr. Rudolph Schenkel. Saat ini penelitian tentang Badak Jawa masih terus dilakukan dan diarahkan untuk memperoleh informasi penting tentang pola perilaku, distribusi, migrasi, populasi, sex ratio, dan keragaman genetik.

Selain dari penelitian dan dukungan terhadap patroli anti perburuan Badak Jawa , WWF-Indonesia di Taman Nasional Ujung Kulon juga memfokuskan kegiatannya pada upaya manajemen habitat dengan harapan habitat yang terjaga akan dapat mempertahankan populasi yang tersisa. Upaya-upaya ini termasuk menurunkan ancaman kegiatan illegal seperti perambahan dan perburuan, mengurangi tumbuhnya spesies tanaman pengganggu (Arenga spp) dan kompetisi lahan antara badak dengan banteng (Bos javanicus), serta meningkatkan ketersediaan tumbuhan pakan badak.

Ciri-ciri Fisik Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)

  • Umumnya memiliki warna tubuh abu-abu kehitam-hitaman.
  • Hanya memiliki satu cula, dengan panjang sekitar 25 cm namun ada kemungkinan tidak tumbuh atau sangat kecil sekali pada betina.
  • Berat badan seekor Badak Jawa dapat mencapai 900 - 2300 kg dengan panjang tubuh sekitar 2 - 4 m.
  • Tingginya bisa mencapai hampir 1,7 m.
  • Kulitnya memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja.
  • Memiliki rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit.
  • Bibir atas lebih menonjol sehingga bisa digunakan untuk meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut.
  • Badak termasuk jenis pemalu dan soliter (penyendiri).

Populasi dan Distribusi Badak Jawa

Badak Jawa pernah hidup di hampir semua gunung-gunung di Jawa Barat, diantaranya berada hingga diatas ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Pada tahun 1960-an, diperkirakan sekitar 20 sd 30 ekor badak saja tersisa di TN Ujung Kulon. Populasinya meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 1967 hingga 1978 setelah upaya perlindungan dilakukan dengan ketat, sebagian dilakukan dengan dukungan dari WWF-Indonesia. Sejak akhir tahun 1970-an, jumlah populasi Badak Jawa tampaknya stabil. WWF-Indonesia memperkirakan populasi Badak Jawa di Ujung Kulon berada dalam kisaran 26 - 58 individu dengan nilai rata-rata 42 ekor (data tahun 2000).

sumber : WWF

Wednesday, June 3, 2009

musang luwak

pernah liat hewan yang satu ini?
musang...
bener banget,
ini merupakan seekor musang. gw dapet ni musang dari tetangga belakang rumah gw. cerita untuk mendapatkannya juga sedikit lucu. jadi ketika malam menjelang, musang ini terjatuh ke dalam kolam tetangga gw dan musang ini tidak bisa naik lagi, kasian ya! sekarang musang ini ada di rumah pacar gw di bekasi. hal ini dikarenakan tidak mungkin dipelihara dirumah karena rumah terlalu sempit dan nyokap akan ngusir gw kalo musang tersebut tidak segera dikeluarkan dari rumah. tragis ya?

gw akan diusir dari rumah gara2 gw pelihara musang! huhuhuh

tapi biarlah, sekarang musang itu dah sedikit merasa nyaman walau awalnya agak ketakutan, karena dirumah pacar gw banyak hewan, contohnya burung nuri, burung perkutut, burung puter, hamster, ikan cupang, dan kucing.

ini ada sedikit informasi tentang musang yang gw dapat dari wiki...

Musang luwak adalah hewan menyusu (mamalia) yang termasuk suku musang dan garangan (Viverridae). Nama ilmiahnya adalah Paradoxurus hermaphroditus dan di Malaysia dikenal sebagai musang pulut. Hewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain seperti musang (nama umum, Betawi), careuh (Sunda), luak atau luwak (Jawa), serta common palm civet, common musang, house musang atau toddy cat dalam bahasa inggris.

Musang bertubuh sedang, dengan panjang total sekitar 90 cm (termasuk ekor, sekitar 40 cm atau kurang). Abu-abu kecoklatan dengan ekor hitam-coklat mulus.

Sisi atas tubuh abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus, atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar di sebelah menyebelah tubuhnya.

Wajah, kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Hewan betina memiliki tiga pasang puting susu.


Musang luwak adalah salah satu jenis mamalia liar yang kerap ditemui di sekitar pemukiman dan bahkan perkotaan. Hewan ini amat pandai memanjat dan bersifat arboreal, lebih kerap berkeliaran di atas pepohonan, meskipun tidak segan pula untuk turun ke tanah. Musang juga bersifat nokturnal, aktif di malam hari untuk mencari makanan dan lain-lain aktivitas hidupnya.

Dalam gelap malam tidak jarang musang luwak terlihat berjalan di atas atap rumah, meniti kabel listrik untuk berpindah dari satu bangunan ke lain bangunan, atau bahkan juga turun ke tanah di dekat dapur rumah. Musang luwak juga menyukai hutan-hutan sekunder.

Musang ini kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walaupun tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepaya, pisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii). Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.

Di tempat-tempat yang biasa dilaluinya, di atas batu atau tanah yang keras, seringkali didapati tumpukan kotoran musang dengan aneka biji-bijian yang tidak tercerna di dalamnya. Agaknya pencernaan musang ini begitu singkat dan sederhana, sehingga biji-biji itu keluar lagi dengan utuh. Karena itu pulalah, konon musang luak memilih buah yang betul-betul masak untuk menjadi santapannya. Maka terkenal istilah kopi luwak dari Jawa, yang menurut ceritera dari mulut ke mulut diperoleh dari biji kopi hasil pilihan musang luwak, dan telah mengalami ‘proses’ melalui pencernaannya!


Akan tetapi sesungguhnya ada implikasi ekologis yang penting dari kebiasaan musang tersebut. Jenis-jenis musang lalu dikenal sebagai pemencar biji yang baik dan sangat penting peranannya dalam ekosistem hutan.

Pada siang hari musang luwak tidur di lubang-lubang kayu, atau jika di perkotaan, di ruang-ruang gelap di bawah atap. Hewan ini melahirkan 2-4 anak, yang diasuh induk betina hingga mampu mencari makanan sendiri.

Sebagaimana aneka kerabatnya dari Viverridae, musang luwak mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, namun dapat pula menjadi pekat dan memualkan. Kemungkinan bau ini digunakan untuk menandai batas-batas teritorinya, dan pada pihak lain untuk mengetahui kehadiran hewan sejenisnya di wilayah jelajahnya.


A popular aquatic pet

Betta splendens

For hundred of years, the Siamese Fighting Fish or Betta splendens, has been kept and cultivated by people in Thailand (Siam). Today, the Betta is popular throughout the world – though not for the purpose of fish fighting but as a peaceful aquarium resident. Through years of selective breeding, pet store Bettas look vastly different from their original, wild-caught ancestors. Instead of just a few colors, they can now be purchased in an array of hues including red, blue, turquoise, black, white, yellow, and brown.


In addition, their fins have greatly increased in size and are much more elaborate among the different types of hybrids available are the Veil Tail, Delta Tail, Half Moon, Double Tail, and Crown Tail. Of course, it is only the males that have the long, elegant fins and do all the fighting. Females have much shorter fins and are not as vividly colored as the males. Interestingly, Bettas are air breathers; they use a unique organ called the labyrinth to process the oxygen in the air and they will die if they are unable to reach the waters surface.


The Betta’s native habitat is the warm, still ponds, swamps and rice paddies of Southeast Asia. There, among the leaves and branches of the dense undergrowth, these carnivorous fish hunt for small insects and larvae.

Although the Bettas found in pet stores today have been captive bred, they should be kept in conditions that mimic their ancestor’s natural environment. Therefore, an aquarium (minimum size of 10 gallons) that is decorated with several plants and that has gentle water movement will suit them best. A cover, with a few small openings to allow air circulation, should also be provided to prevent them from jumping out.


Bettas like warmer temperatures so the water in the aquarium should be kept between 76-85 F with a slightly acidic pH of 6.5-7.0. Their diet should consist primarily of meaty foods such as brine shrimp, bloodworms, freeze-dried tubifex worms, etc. Bettas can grow to 3 inches long and live for up to 3 years if cared for properly. As far as tank mates are concerned, Bettas get along fine with most fishes; but do not keep them with aggressive species or any that are prone to pick at their beautiful fins. Male Bettas can be kept together in the same tank only if they are partitioned off from each other – otherwise you can expect some shredded fins, missing scales and not-so-nice looking fish!


Tuesday, June 2, 2009

False Gharial Crocodile


Distribution : Commonly known as the Malayan False gharial, this little - known, taxonomically unique and harmless crocodilian species is restricted to Kalimantan, Sumatra, Peninsular Malaysia, Sarawak and possibly extreme Southern Thailand. In Sarawak this species is reported to survive in Loagan Bunut and also has been seen in Samarahan and Batang Lupar freshwater riverine peat swamp systems. Two female gharials have been captured and were being kept at Semengoh Wildlife Rehabilitation Centre in 1991 and 1995 respectively.

Food habits: This harmless species feeds primarily on fish. However there were some human parts found in the stomach of a female gharial (about 11 foot long) captured in Sungai Tisak, a tributary of Batang Lupar. It was thought that the gharial could have taken the food or 'parts' from the woman body killed by a crocodylus porosus earlier on.

Breeding Behavior: This species locally know as 'buaya jolong' normally nest by river bank within freshwater peat swamp areas as evident in Sungai Runjing case. Its female usually guards the nest within 3-4 meters away from the nest. Their eggs usually amounting to 16, are normally laid in a jumble mass covered by leaf litters and debris. There has been no concrete report on the incubation period of the eggs so far..

Monday, June 1, 2009

carpet python (Morelia spilota)


The carpet python (Morelia spilota), is a species of medium to large semi-arboreal pythons. They are often found near people where they perform a useful service by eating rats and other vermin. They are largely, but can also be diurnal. They are found in Australia and New Guinea.

Subspecies

  • Southwestern Carpet Python, Morelia spilota imbricata (Smith, 1981)
  • Jungle Carpet Python, Morelia spilota cheynei (Wells & Wellington, 1985)
  • Morelia spilota macrospila (Werner, 1910)
  • Coastal Carpet Python, Morelia spilota mcdowelli (Wells & Wellington, 1985)
  • Diamond Python, Morelia spilota spilota (La Cepede, 1804)
  • Northwestern Carpet Python (aka Irian Jaya Carpet Python or West Papuan Carpet Python), Morelia spilota variegata (Gray, 1842)
  • Inland Carpet Python, Morelia spilota metcalfei (Wells & Wellington, 1985)

Description

Most forms have intricate markings made up of light and dark bands on a background of gray or a version of brown. All have triangular heads with a conspicuous row of heat pits in the scales around the mouth. Of those listed here, coastal carpet pythons, M. s. mcdowelli are the largest, regularly attaining lengths of 9-10 feet. Irian Jaya carpet pythons are the smallest, averaging lengths of 4-6 feet. The average adult length is roughly 2 m (6.5 feet). However, a 3yr old captive male Morelia spilota mcdowelli, measured in Ireland, was found to exceed 13 feet.

Carpet pythons are oviparous, producing as few as 10 eggs, and as many as 50.

Related species

There are many further species in the carpet python complex, including the ochre-red Bredl's or Centralian python (Morelia Bredli). This python, which is native to a small area around the Macdonnell Ranges and the town of Alice Spring's in Australia's Northern Territory, is a unique member of the complex, having many more smaller scales, so that the body more closely resembles a skin. In captivity, striped, spotted and hypomelanistic specimens have been observed. Bredl's python is a medium sized carpet python, averaging around 5 feet, however it is noted for its thicker girth. Adults can breed at a later age than most carpet pythons.

In captivity

Carpet pythons are often referred to beginners as an ideal first pet snake. Although they can grow to a reasonable size (2-5 meters) and can be nippy as hatchlings, most will grow into docile, trustworthy adults. Males are typically smaller than females of the same species, and are a wise choice for those looking for a slightly smaller adult. They can be fed on rats and mice, and have a lifespan ranging from 15 to 20 years. In some Australian states a license is required to keep replies as pets. To obtain a license you will need to contact your local national parks office.

In New South Wales a license will cost $60 for two years and $120 for five years. Also, in NSW (New South Wales) you can only by snakes from private breeders and not pet shops. To keep snakes you will need quite a bit of equipment. You will need a cage for it, an old fish take will do but it must be large enough for the snake to grow. Another thing you will need is a heat rock which the animal can warm itself on, along with a infrared heat lamp. A temperature gauge is also good. Logs are good as well for them to climb on but that is basically what you will need.

In Western Australia licenses vary in cost depending on the category of herpetology license applied for. The pricing ranges from $40 for an annual category 2 license, to $650 for a 3 year category 5 license. License categories above and including category 4 require previous experience in keeping reptiles. Category 5 is the only category that allows for keeping elapid snakes and other dangerous or venomous reptiles.

source : wikipedia

Friday, May 29, 2009

Bismarck ringed python/(Bothrochilus boa)


The Bismarck ringed python (Bothrochilus boa) is a small round-bodied python species with a head only slightly wider that the neck.

Description

Ringed pythons have black heads, and the body is dark brown patterned with wide black rings around the body. Some specimens may have black rings that are irregular, incompletely formed or even absent. Their scales are highly iridescent. Hatchlings are patterned as adults, but the brown of adults is replaced by bright orange; many keepers consider hatchling ringed pythons to be the prettiest of all the pythons. Average adult size is between 90 and 150cm.

Range

In the wild they are only found in a fairly narrow area of Papua-New Guinea, in the region of the Bismarck Archipelago. Most specimens in captivity can trade their lineage to wild caught specimens from either New Ireland or New Britain.

Behavior

They are fossorial snakes, that are often found in coconut husk piles of their rain forest habitat. When young, ringed pythons will often bite readily, but they usually settle down as they mature to become trustworthy captives. Wild caught animals are not generally available. The species appears to be well-established in captivity with several hundred ringed pythons hatching out from breeder's collections each year. Captive specimens seem to benefit if provided with a box of damp moss in which to occasionally sit. This species likes high humidity but is intolerant of poor ventilation or wet conditions.

source : Wikipedia

Tuesday, May 26, 2009

Python breitensteini/Borneo Short-tailed Python (Python breitensteini)


The Borneo Short-tailed Python (Python breitensteini) is a species of heavy-bodied python native to Western Malaysia, Sumatra, Boeneo, Bangka Island and other islands in the Strait of Malacca, including the Lingga Island, Riau Islands, and Bintan.

Once considered a subspecies of Python curtus, they have since been reclassified as a separate species, however, they are still generally grouped with two other species: the Red or Malaysian Blood Python (Python Brongersmai) and the Sumatran or Black Blood Python (python curtus), as Bloods pythons.

Description

Borneo Short-tailed pythons have been reported as attaining lengths of nearly 7 feet (2.1 m), although they usually only grow to approximately 4 feet (1.2 m) in length. They can weigh in the range of 30 lb (13.6 kg). They are sexually dimorphic in that females are generally larger than males.

They have a long, broad head that is usually a yellow in color, with several heat sensing pits along the nose. Their body is thickly built and a varying pattern of tan with brown blotching, which can vary greatly between specimens. As their name implies, their tail is short and tapering. Though there have been no reported instances of albinism in the species, there are individuals which display a significantly lighter color, appearing more yellow than brown. Juveniles have a more contrasting pattern than adults.

Geographic Range & Habitat

Though largely only found in Indonesia and Malaysia, on the island of Borneo, they also have been recorded in Singapore. They are typically found at lower elevations, on poorly drained flood plains, or on the edges of swampy areas. Man-made irrigation of farmland has also provided the species with appropriate habitat.

Behavior

While they (and other blood pythons) generally have a reputation for being mean-tempered, Borneo short-tailed pythons are becoming more commonly kept as pets among reptile enthusiasts. Their rise in popularity is due to captive breed specimens being recognized as more easily handled than wild-caught snakes.

source : Wikipedia